Ceaster Forum
Selamat Datang di Forum Ceaster
Bahas apa aja di sini sesuai forum !
Dapatkan Banyak Info,Ilmu,Berita di Sini !
AYO BURUAN DAFTAR ADA EVENT BERHADIAH BAGI PENDAFTAR !
Daftarnya mudah Tinggal Masukin data !

Ceaster Forum

Forum Pengetahuan Informasi dan Jual Beli Terlengkap di Indonesia


You are not connected. Please login or register

Ceaster Forum » Berita & Politik » Berita Dalam Negeri » 12 Kg Jadi Rp 126 Ribu, Warga Surabaya Borong LPG 3 Kg

12 Kg Jadi Rp 126 Ribu, Warga Surabaya Borong LPG 3 Kg

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down  Message [Halaman 1 dari 1]


[You must be registered and logged in to see this image.]
Berita Surabaya - Kenaikan harga Elpiji 12 Kg yang mulai diberlakukan 1 Januari kemarin dari Rp 75 ribu menjadi Rp 122 ribu hingga Rp 126.200 menuai keluhan dari para pengguna gas elpiji 12 Kg. Kenaikan ini dinilai sangat memberatkan dan warga pun mulai berbondong-bondong membeli tabung gas.

Lukman Hakim (30) warga Karang Menjangan Surabaya mengaku sangat terkejut mendapati harga elpiji 12 Kg naik sekitar 65 persen. Akibatnya Lukman pun mengurungkan niatnya membeli gas elpiji 12 Kg. Dan untuk keperluan memasak istrinya Lukman pun harus menggunakan tabung elpiji 3 Kg yang dipinjamkan tetangganya.

"Saya pun kini sedang memesan tabung gas elpiji 3 Kg ke agen terdekat. Karena jika dikalkulasikan jauh lebih murah membeli gas 3 Kg saja. Sebab harga gas 3 Kg hanya Rp 15.000-16.000, kalau dibelikan ke gas 3 Kg uang Rp 120.000 bisa dapat 8 tabung, gas elpiji 3 Kg," aku Lukman.

Hal yang sama juga dikeluhkan warga Medayu Utara Surabaya yang menilai kenaikan yang dilakukan Pertamina sangat memberatkan. Bahkan Mohammad Badwi (54), salah seorang pendagang eceran gas elpiji pun mengaku mulai kebanjiran pesanan untuk tabung gas elpiji 3 Kg. Namun sayangnya untuk mendapatkan gas elpiji 3 Kg ternyata tak semudah yang dibayangkan.

Tak jarang Badwi pun harus memesannya ke tukang rombengan, mengingat di agen besar, tabung gas 3 Kg yang siap dijual tak tersedia setiap saat dan kalau pun ada jumlahnya hanya 1-3 tabung saja.

"Dulu saya masih bisa menjual tabung elpiji 3 Kg sekitar Rp 100 ribu, sekarang tabungnya langka bisa laku hingga Rp 200 ribu per tabung," ungkap Badwi.

Menurut pihak PT Pertamina (Persero) keputusan menaikkan harga Elpiji non subsidi kemasan 12kg dilakukan karena tingginya harga pokok LPG di pasar dan turunnya nilai tukar rupiah yang menyebabkan kerugian perusahaan semakin besar.

Dengan konsumsi Elpiji non subsidi kemasan 12kg tahun 2013 yang mencapai 977.000 ton, di sisi lain harga pokok perolehan Elpiji rata-rata meningkat menjadi US$873, serta nilai tukar rupiah yang melemah terhadap dolar, maka kerugian Pertamina sepanjang tahun ini diperkirakan mencapai lebih dari Rp5,7 triliun. Kerugian tersebut timbul sebagai akibat dari harga jual Elpiji non subsidi 12kg yang masih jauh di bawah harga pokok perolehan.

Harga yang berlaku saat ini merupakan harga yang ditetapkan pada Oktober 2009 yaitu Rp5.850 per kg, sedangkan harga pokok perolehan kini telah mencapai Rp10.785 per kg. Dengan kondisi ini maka Pertamina selama ini telah "jual rugi" dan menanggung selisihnya sehingga akumulasi nilai kerugian mencapai Rp22 triliun dalam 6 tahun terakhir. 

“Kondisi ini tentunya tidak sehat secara korporasi karena tidak mendukung Pertamina dalam menjamin keberlangsungan pasokan elpiji kepada masyarakat," tutur Vice President Corporate Communication Pertamina Ali Mundakir.

“Untuk itu, terhitung mulai tanggal 1 Januari 2014 pukul 00.00 Pertamina memberlakukan harga baru Elpiji non subsidi kemasan 12kg secara serentak di seluruh Indonesia dengan rata-rata kenaikan di tingkat konsumen sebesar Rp3.959 per kg. Besaran kenaikan ditingkat konsumen akan bervariasi berdasarkan jarak SPBBE ke titik serah (supply point). Dengan kenaikan inipun, Pertamina masih "jual rugi" kepada konsumen Elpiji non subsidi kemasan 12kg sebesar Rp 2.100,-/kg.”

Keputusan ini merupakan tindak lanjut atas rekomendasi Badan Pemeriksa Keuangan RI dalam laporan hasil pemeriksaan pada bulan Februari 2013, di mana Pertamina menanggung kerugian atas bisnis Elpiji non subsidi selama tahun 2011 s.d. Oktober 2012 sebesar Rp7,73 triliun, yang hal itu dapat dianggap menyebabkan kerugian negara. Selain itu, sesuai dengan Permen ESDM No. 26 Tahun 2009 tentang Penyediaan dan Pendistribusian Liquefied Petroleum Gas pasal 25, maka Pertamina telah melaporkan kebijakan perubahan harga ini kepada Menteri ESDM.

Dengan pola konsumsi Elpiji non subsidi kemasan 12kg di masyarakat yang umumnya dapat digunakan untuk 1 hingga 1,5 bulan, kenaikan harga tersebut akan memberikan dampak tambahan pengeluaran sampai dengan Rp. 47.000 per bulan atau Rp.1.566 per hari. Kondisi ini diyakini tidak akan banyak berpengaruh pada daya beli masyarakat mengingat konsumen Elpiji non subsidi kemasan 12kg adalah kalangan mampu. Untuk masyarakat konsumen ekonomi lemah dan usaha mikro, Pemerintah telah menyediakan LPG 3 kg bersubsidi yang harganya lebih murah.

Terkait dengan kekhawatiran kenaikan harga Elpiji non subsidi kemasan 12kg akan memicu migrasi konsumen ke LPG 3kg,  Ali mengatakan Pertamina saat ini telah mengembangkan sistem monitoring penyaluran LPG 3kg (SIMOL3K), yang diimplementasikan secara bertahap di seluruh Indonesia mulai bulan Desember 2013. Dengan adanya sistem ini, Pertamina akan dapat memonitor penyaluran LPG 3kg hingga level Pangkalan berdasarkan alokasi daerahnya..

“Namun demikian, dukungan Pemerintah tetap diharapkan melalui penerapan sistem distribusi tertutup LPG 3kg serta penerbitan ketentuan yang membatasi jenis konsumen yang berhak untuk menggunakan LPG 3 kg,” tegas Ali.

Sementara itu, Assistant Manager External Marketing Operation Region V, Heppy Wulansari menjelaskan dengan perubahan harga tersebut maka harga jual LPG 12kg di Agen LPG Pertamina di wilayah Jatim berada dikisaran Rp. 122.800-126.200 per tabung dan harga di konsumen akan bervariasi menyesuaikan dengan jarak suplai point. Sebelumnya harga LPG 12 Kg berada di kisaran Rp. 75.100,-/tabung hingga Rp.78.600,-/tabung.

“untuk harga tertinggi ini terjadi di Banyuwangi karena jaraknya paling jauh dari Suplai point. Sedangkan untuk Surabaya, Sidoarjo, Mojokerto, Gresik dan sekitarnya berada dikisaran terendah” jelas Heppy

Untuk mengantisipasi peralihan konsumen LPG 12 Kg dan ketersediaan LPG 3Kg di lapangan, Pertamina region V melakukan upaya-upaya antara lain : operasi pasar LPG 3Kg jika diperlukan, pelaksanaan system monitoring LPG 3 kg (SIMOL3K) untuk pengawasan volume penyaluran dan pendataan konsumen di Pangkalan LPG 3 Kg serta menetapkan harga eceran di SPBU yg menjadi outlet LPG 12 Kg. Hal ini dimaksudkan agar SPBU bisa berperan menjadi barometer harga LPG 12 Kg sebagai antisipasi jika pengecer menaikkan harga secara liar.

Sepanjang tahun 2013 tercatat konsumsi LPG 12kg di Jatim sebesar 94.545 Metrik Ton yang didistribusikan oleh 443  Agen tersebar di wilayah Jawa Timur. [rea/but]

Lihat profil user

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas  Message [Halaman 1 dari 1]

Permissions in this forum:
Anda tidak dapat menjawab topik